Jumat, 20 April 2012

makalah pembelajaran

A. KONSEP DASAR BELAJAR DAN PEMBELAJARAN 1. Belajar a. Pengertian Belajar Ada beberapa definisi tentang belajar antara lain sebagai berikut: 1.) Cronbach memberikan definisi: Learning is shown by change in as a result of experience. 2.) Harol spears memberikan batasan : learning is observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction. 3.) Geoch mengatakan : learning is change in fermance as a result of practice. Dari ketiga definisi di atas dapat di terangkan bahwa belajar merupakan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian misalnya dengan membaca, mengemati, mendengarkan, meniru dan sebagainya. Belajar itu lebih baik kalau si subjek belajar mengalami atau melakukannya, jadi tidak bersifat verbalistik (Sadirman, A.m, 2004) Belajar ialah suatu proses yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku baru secara keseluruhan sebagi hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003 ). Belajar adalah sebagai proses suatu proses kegiatan yang menimbulkan kelakukan baru atau merubah kelakukan yang lama sehingga seseorang mampu memecahkan masalah dan menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi yang di hadapi dalam hidupnya (Sahabuddin, 1997). Belajar pada manusia merupakan suatu psikologis yang berlangsung dalam interaksi aktif subjek dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan sifat yang bersifat konstan atau menetap. Perubahan-perubahan itu dapat berupa sesuatu yang baru yang segera Nampak dalam tingkah laku yang nyata (Winkel, 1991). Belajar adalah suatu perkembangan dari seseorang yang dinyatakan dengan tingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan (Hamalik, 1983) Menurut Slavin dalam Catharina Tri Anni (2004), belajar merupakan proses perolehan kemampuan yang berasal dari pengalaman. Menurut Gagne dalam Catharina Tri Anni (2004), belajar merupakan sebuah sistem yang didalamnya terdapat berbagai unsur yang saling terkait sehingga menghasilkan perubahan perilaku. Sedangkan menurut Bell-Gredler dalam Udin S. Winataputra (2008) pengertian belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, skills, and attitude. Kemampuan (competencies), keterampilan (skills), dan sikap (attitude) tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses belajar sepanjang hayat. Ciri-ciri belajar adalah : (1) Belajar harus memungkinkan terjadinya perubahan perilaku pada diri individu. Perubahan tersebut tidak hanya pada aspek pengethauan atau kognitif saja tetapi juga meliputi aspek sikap dan nilai (afektif) serta keterampilan (psikomotor); (2) perubahan itu merupakan buah dari pengalaman. Perubahan perilaku yang terjadi pada individu karena adanya interaksi antara dirinya dengan lingkungan . interaksi ini dapat berupa interaksi fisik dan psikis; (3) perubahan perilaku akibat belajar akan bersifat cukup permanen. Belajar merupakan suatu kekuatan atau sumber daya yang tumbuh dari dalam diri seseorang (induvidu).Belajar adalah proses perubahan perilaku ,akibat interaksi induvidu dengan lingkungan .jadi perubahan perilaku adalah hasil belajar.perilaku itu meliputi aspek pengetahuan (kognitif),sikap (afektif),dan keterampilan (psikomotor).hasil belajar pada aspek pengetahuan adalah dari tidak tahu menjadi tahu,pada aspek sikap dari tidak mau menjadi tahu ,dan pada aspek keterampilan dari tidak mampu menjadi mampu.Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang meliputi perubahan dalam persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dalam bentuk perilaku yang dapat diamati.Belajar sebagai perubahan pengetahuan yang tersimpan dalam memori.proses belajar dipandang sebagai proses pengolahan informasi yang meliputi 3 tahap ,yaitu perhatian (attention),penulisan dalam bentuk symbol (encoding), dan mendapat kembali informasi (retrieval).mengajar merupakan upaya dalam rangka mendorong (menuntun dan mendukung) peserta didik untuk melakukan kegiatan mengorganisir,menyimpan ,dan menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada.Teori belajar kognitif ini dikembangkan oleh beberapa orang ahli seperti Wallace,Engel dan Mooney,Jean Piaget,serta Jerome S.Bruner (Depdiknas ,2004:8). b. Tujuan belajar Tujuan belajar adalah batas cita-cita yang diinginkan dalam suatu usaha. Tujuan dapat di artikan sebagai suatu yang ingin dicapai dalam kegiatan. Tujuan belajar berarti apa yang ingin dicapai dalam kegiatan belajar. Pada dasarnya belajar pada diri manusia, merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan mempunyai sasaran yaitu; • Tujuan mengubah tingkah laku yang lebih barkualitas, • Sasarannya meliputi tingkah laku penalaran (kognitif) keterampilan (spikomotor), dan sifat efektif dan afektif . ( Sudirman , 2004) Mengemukakan bahwa pada dasarnya tujuan belajar sretdapat tiga jenis yaitu: a) Untuk mendapatkan pengetahuan yaitu suatu cara untuk mengembangkan kemampuan berpikir bagi anak untuk memperoleh kemempuan dan kemampuan berpikir. Dengan tujuan belajar ini akan lebih tepat sistem presentasi atau pemberian tugas materi pelajara . b) penanaman konsep dan keterampilan yaitu suatu cara balajar menghadapi dan menangani objek –objek sacara fisik dan psikis. Tujuan belajar ini cenderung dilakukan dengan cara mendemontrasian , pengamatan dan pelatihan. c) untuk pembentukan sikap yaitu suatu kegiatan untuk menumbuhkan sikap mental perilaku dan pribadi anak. • Ciri- ciri belajar Ciri-ciri belajar menurut Tirta Raharja dalam Abdul Haling, 2004, yaitu: • Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar karena proses pematangan, • Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar bukan perubahan tingkah laku karena perubahan fisik • Hasil belajar relatif menetap. Ciri-ciri belajar dilihat dari perubahan tingkah laku yaitu: a. Terjadi secara sadar b. Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional c. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif d. Perubahan dalam belajar bukan bersifit sementara e. Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah f. Perubahan mencangkup seluruh aspek tingkah laku (Slameto,2003) 4.) Prisip-prisip belajar 1) Belajar suatu proses aktif dimana terjadi hubungan saling mempengaruhi secara dinaqmis antara pembelajar dengandan lingkungan 2) Belajar senantiasa bertujuan terarah dan jelas bagi pelajar. Tujuan akan menentukan dalam belajar untuk mencapai harapan-harapannya 3) Senantiasa ada rintangan dan hambatan dalam belajar karena itu pelajar harus sanggup mengatasi secara tepat 4) Belajar itu harus memerlukan bimbingan. Bimbingan itu baik dari pembelajaran atau tuntunan dari buku pelajaran sendiri. 5) Jenis belajar yang paling utama ialah belajar untuk berpikir kritis lebih baik dari pembentukan kebiasaan-kebiasaan mekanisme 6) Cara belajar yang paling efektif adalah bentuk pemecahan masalah melalui karja kelompok asalkan masalah tersebut telah disadari bersama dalam kelompoktertentu 7) Belajar memerlikan pemahaman hal-hal yang di pelajari sehingga diperoleh pengertian-pengertian. 8) Belajar memerluka latihan dan ulangan agar apa-apa yang dipelajari dapat dikuasai 9) Belajar harus dikuasai kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan 10) Belajar dianggap berhasil bila dapat dipraktikan. 2. Pembelajaran Menurut Gagne, Briggs, dan wagner dalam Udin S. Winataputra (2008) pengertian pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa.Menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkingan belajar. Ciri utama dari pembelajaran adalah inisiasi, fasilitasi, dan peningkatan proses belajar siswa. Sedangkan komponen-komponen dalam pembelajaran adalah tujuan, materi, kegiatan, dan evaluasi pembelajaran. Belajar, pada hakekatnya, adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Menurut Sudjana,1989 Belajar juga merupakan proses melihat, mengamati dan memahami sesuatu. Sedangkan menurut Witherington, 1952 menyebutkan bahwa “Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai suatu pola-pola respon yang berupa keterampilan, sikap, kebiasaan, kecakapan atau pemahaman”.Beberapa hal yang berkaitan dengan pengertian belajar yaitu belajar suatu proses yang berkesinambungan yang berlangsung sejak lahir hingga akhir hayat, dalam belajar terjadi adanya perubahan tingkah laku yang bersifat relatif permanen, hasil belajar ditunjukan dengan tingkah laku,dalam belajar ada aspek yang berperan yaitu motivasi, emosional, sikap,dan yang lainnya. Menurut Gagne dan Briggs (1988), perubahan tingkah laku dalam proses belajar menghasilkan aspek perubahan seperti kemampuan membedakan, konsep kongkrit, konsep terdefinisi, nilai, nilai/aturan tingkat tinggi, strategi kognitif, informasi verbal, sikap, dan keterampilan motorik. Proses belajar terjadi apabila individu dihadapkan pada situasi di mana ia tidak dapat menyesuaikan diri dengan cara biasa, atau apabila ia harus mengatasi rintangan-rintangan yang mengganggu kegiatan-kegiatan yang diinginkan. Proses penyesuain diri mengatasi rintangan terjadi secara tidak sadar, tanpa pemikiran yang banyak terhadap apa yang dilakukan. Dalam hal ini pelajar mencoba melakukan kebiasaan atau tingkah laku yang telah terbentuk hingga ia mencapai respon yang memuaskan.Jadi belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang berkesinambungan antara berbagai unsur dan berlangsung seumur hidup yang didorong oleh berbagai aspek seperti motivasi, emosional, sikap dan yang lainnya dan pada akhirnya menghasilkan sebuah tingkah laku yang diharapkan. Unsur utama dalam belajar adalah individu sebagai peserta belajar, kebutuhan sebagai sumber pendorong, situasi belajar, yang memberikan kemungkinan terjadinya kegiatan belajar. Pembelajaran (instruction) merupakan akumulasi dari konsep mengajar (teaching) dan konsep belajar (learning). Penekanannya terletak pada perpaduan antara keduanya, yakni kepada penumbuhan aktivitas subjek didik. Konsep tersebut dapat dipandang sebagi suatu sistem. sehingga dalam sistem belajar ini terdapat komponen-komponen siswa atau peserta didik, tujuan, materi untuk mencapai tujuan, fasilitas dan prosedur serta alat atau media yang harus dipersiapkan. Davis, l974 mengungkapkan bahwa learning system menyangkut pengorganisasian dari perpaduan antara manusia, pengalamanbelajar, fasilitas, pemeliharaan atau pengontrolan, dan prosedur yang mengatur interaksi perilaku pembelajaran untuk mencapai tujuan sedangkan dalam system teaching sistem, komponen perencanaan mengajar, bahan ajar, tujuan, materi dan metode, serta penilaian dan langkah mengajar akan berhubungan dengan aktivitas belajar untuk mencapai tujuan. Kenyataan bahwa dalam proses pembelajaran terjadi pengorganisasian, pengelolaan dan transformasi informasi oleh dan dari guru kepada siswa. Menurut Meier, 2002 mengemukakan bahwa semua pembelajaran manusia pada hakekatnya mempunyai empat unsur, yakni persiapan (preparation), penyampaian (presentation), pelatihan (practice), penampilan hasil (performance). a. Persiapan (Preparation) Tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan peserta belajar untuk belajar. Tanpa itu, pembelajaran akan lambat dan bahkan dapat berhenti sama sekali. Salah satu tujuan penyiapan peserta belajar adalah mengajaknya memasuki kembali dunia kanak-kanak mereka, sehingga kemampuan bawaan mereka untuk belajar dapat berkembang sendiri. Dunia kanak-kanak ditandai dengan keterbukaan, kebebasan, kegembiraan dan rasa ingin tahu yang sangat besar. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan sugesti positif, memberikan pernyataan yang memberi manfaat, menenangkan rasa takut, menyingkirkan hambatan belajar, banyak bertanya dan mengemukakan berbagai masalah, merangsang rasa ingin tahu dan mengajak belajar penuh dari awal, membangkitkan rasa ingin tahu, menciptakan lingkungan fisik, emosional, sosial yang positif, memberikan tujuan yang jelas dan bermakna. Pembelajaran jika dilakukan dengan persiapan matang sesuai dengan karakteristik kebutuhan, materi, metode, pendekatan, lingkungan serta kemampuan guru, maka hasilnya diasumsikan akan lebih optimal. Asumsi negatif tentang belajar cenderung menciptakan pengalaman negatif dan asumsi positif cenderung menciptakan pengalaman positif. Sugesti tidak boleh berlebihan, menimbulkan kesan bodoh, dangkal, tetapi harus realistik, jujur dan tidak bertele-tele. Menurut Merton (1986), dalam kejadian apapun, jika sudah menetapkan hati untuk mencapai hasil positif, kemungkinan besar hasil positif yang akan dicapai. Ketika asumsi negatif sudah digantikan dengan yang positif, maka rasa gembira dan lega dapat mempercepat pembelajaran. Menciptakan asumsi positif tentang belajar dapat dilakukan dengan menata tempat duduk secara dinamis, menghiasi ruang belajar, atau apa yang ada dalam lingkungan belajar yang dapat menambah warna, keindahan, minat serta rangsangan belajar peserta didik. Termasuk dengan kehangatan musik, sebagaimana banyak dilakukan dalam inovasi-inovasi pembelajaran modern saat ini. Ada garis lurus antara tujuan dan manfaat, tetapi tujuan cenderung dikaitkan dengan apa, sedangkan manfaat dikaitkan dengan “mengapa”. Peserta belajar dapat belajar paling baik jika mereka tahu mengapa mereka belajar dan dapat menghargai bahwa pembelajaran mereka punya relevansi dan nilai bagi diri mereka secara pribadi. Orang belajar untuk mendapatkan hasil bagi diri sendiri. Jika mereka tidak melihat ada hasilnya, mengapa harus belajar. Oleh karena itu, penting sekali untuk sejak awal menegaskan manfaat belajar sesuatu agar orang merasa terkait dengan topik pelajaran itu secara positif. Dalam banyak kasus, persiapan pembelajaran dapat dimulai sebelum dimulainya program belajar. Kerjasama membantu peserta belajar mengurangi stres dan lebih banyak memanfaatkan energinya untuk belajar. Interaksi sangat penting dalam membangun komunitas belajar. Hal ini dapat dimulai dengan program tugas kelompok yang dikaitkan dengan pengenalan, tujuan, manfaat bagi peserta belajar atau penilaian pengetahuan. Upaya belajar benar-benar bergantung pada peserta belajar dan bukan merupakan tanggung jawab perancang atau fasilitatornya. b. Penyampaian (Presentation) Tahap penyampaian dalam siklus pembelajaran dimaksudkan untuk mempertemukan peserta belajar dengan materi belajar yang mengawali proses belajar secara positif dan menarik. Tahap penyampaian dapat dilakukan dengan kegiatan presentasi di kelas. Belajar adalah menciptakan pengetahuan, bukan menelan informasi, maka presentasi dilakukan semata-mata untuk mengawali proses belajar dan bukan untuk dijadikan fokus utama. Tujuan tahap penyampaian adalah membantu peserta belajar menemukan materi belajar yang baru dengan cara yang menarik, menyenangkan, relevan, melibatkan penca indra dan cocok untu semua gaya belajar. Hal ini dapat dilakukan melalui uji coba kolaboratif dan berbagi pengetahuan, pengamatan fenomena dunia nyata, pelibatan seluruh otak dan tubuh peserta belajar,presentasi interaktif, melalui aneka macam cara yang disesuaikan dengan seluruh gaya belajar termasuk melalui proyek belajar berdasarkan-kemitraan dan berdasarkan tim, pelatihan menemukan, atau dengan memberi pengalaman belajar didunia nyata yang kontekstual serta melalui pelatihan memecahkan masalah. c. Latihan (Practice) Tahap latihan ini dalam siklus pembelajaran berpengarruh terhadap 70% atau lebih pengalaman belajar keseluruhan. Dalam tahap inilah pembelajaran yang sebenarnya berlangsung. Peranan instruktur atau pendidik hanyalah memprakarsai proses belajar dan menciptaan suasana yang mendukung kelancaran pelatihan. Dengan kata lain tugas instruktur atau pendidik adalah menyusun konteks tempat peserta belajar dapat menciptakan isi yang bermakna mengenai materi belajar yang sedang dibahas. Tujuan tahap pelatihan adalah membantu peserta belajar mengintegrasikan dan menyerap pengetahuan dan keterampilan baru dengan berbagai cara. Seperti aktifitas pemrosesan, permainan dalam belajar, aktifitas pemecahan masalah dan refleksi dan artikulasi individu, dialog berpasangan atau kelompok, pengajaran dan tinjauan kolaboratif termasuk aktifitas praktis dalam membangun keterampilan lainnya. d. Penampilan Hasil (Performance) Proses belajar seringkali mengabaikan tahap adahal ini sangat penting disadari bahwa tahap ini merupakan satu kesatuan dengan keseluruhan proses belajar. Tujuan tahap penampilan hasil ini adalah untuk memastikan bahwa pembelajaran tetap melekat dan berhasil diterapkan, membantu peserta belajar menerapkan danmemperluas pengetahuan atau keterampilan baru mereka pada pekerjaan sehingga hasil belajar akan melekat dan penampilan hasil akan terus meningkat seperti; penerapan di dunia maya dalam tempo segera, penciptaan dan pelaksanaan rencana aksi, dan aktifitas penguatan penerapan. Setelah mengalami tiga tahap pertama dalam siklus pembelajaran, kita perlu memastikan bahwa orang melaksanakan pengetahuan dan keterampilan baru mereka pada pekerjaan mereka, nilai-nilai nyata bagi diri mereka sendiri, organisasi dan klien organisasi. Persoalannya dalam dunia pendidikan di persekolahan banyak yang menyalahi proses ini. Padahal jika salah satu dari empat tahap tersebut tidak ada, maka belajarpun cenderung merosot atau terhenti sama sekali. Pembelajaran akan terganggu jika peserta belajar tidak terbuka dan tidak siap untuk belajar, tidak menyadari manfaat belajar untuk diri sendiri, tidak memiliki minat, atau terhambat oleh rintangan belajar. Hal yang sama terjadi jika gaya belajar pribadi seseorang tidak diperhatikan dalam tahap penyampaian. Belajar adalah proses perubahan perilaku secara aktif, proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu, proses yang diarahkan pada suatu tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman, proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu yang dipelajari. Sedangkan mengajar sendiri memiliki pengertian : • Upaya guru untuk “membangkitkan” yang berarti menyebabkan atau mendorong seseorang (siswa) belajar. (Rochman Nata Wijaya,1992) • Menciptakan lingkungan yang memungkinkan terjdinya proses belajar. (Hasibuan J.J,1992) • Suatu usaha untuk membuat siswa belajar, yaitu usaha untuk terjadinya perubahan tingkah laku. (Gagne) Pembelajaran yang diidentikkan dengan kata “mengajar” berasal dari kata dasar “ajar” yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut) ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran “an menjadi “pembelajaran”, yang berarti proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan sehingga anak didik mau belajar. (KBBI) Pembelajaran adalah proses interaksi Peserta dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahua, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. (Wikipedia.com) Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seseorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan peserta didik. Instruction atau pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal. Gagne dan Briggs (1979:3) Pembelajaran adalah Proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. (UU No. 20/2003, Bab I Pasal Ayat 20) Istilah “pembelajaran” sama dengan “instruction atau “pengajaran”. Pengajaran mempunyai arti cara mengajar atau mengajarkan. (Purwadinata, 1967, hal 22). Dengan demikian pengajaran diartikan sama dengan perbuatan belajar (oleh siswa) dan Mengajar (oleh guru). Kegiatan belajar mengajar adalah satu kesatuan dari dua kegiatan yang searah. Kegiatan belajar adalah kegiatan primer, sedangkan mengajar adalah kegiatan sekunder yang dimaksudkan agar terjadi kegiatan secara optimal.Dan dapat ditarik kesimpulan bahwa Pembelajaran adalah usaha sadar dari guru untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang belajar, dimana perubahan itu dengan didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relative lama dan karena adanya usaha. Dengan demikian dapat diketahui bahwa kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan yang melibatkan beberapa komponen : 1. Siswa Seorang yang bertindak sebagai pencari, penerima, dan penyimpan isi pelajaran yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. 2. Guru Seseorang yang bertindak sebagai pengelola, katalisator, dan peran lainnya yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar yang efektif. 3. Tujuan Pernyataan tentang perubahan perilaku (kognitif, psikomotorik, afektif) yang diinginkan terjadi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. 4. Isi Pelajaran Segala informasi berupa fakta, prinsip, dan konsep yang diperlukan untuk mencapai tujuan. 5. Metode Cara yang teratur untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendapat informasi yang dibutuhkan mereka untuk mencapai tujuan. 6. Media Bahan pengajaran dengan atau tanpa peralatan yang digunakan untuk menyajikan informasi kepada siswa. 7. Evaluasi yaitu cara tertentu yang digunakan untuk menilai suatu proses dan hasilnya. Tujuan pemblejaran Tujuan pembelajar dimulai dari tujuan yang paling umum sampai yang paling rinci , sehingga tujuan pembelajaran terdapat kasifikasi berdasarkan kedudukannya , yaitu: a. Tujuan umum pendidikan Nasional, yaiti pembentukan manusia seutuhnya .tujuan pendidikan untuk semua jenis dan jenjang pendidikan. b. Tujuan institusional , tujuan masing-masing lembaga pendidikan seperti; SD, SMP,SMA PT, PLS. c. Tujuan kurikuler, tujuan macam-macam bidang study seperti; matematika . bahasa, agama kesenian dsb. d. Tujuan pembelajaran Tujuan program pembelajaran tertentu . Tujuan pembelajaran terdiri atas dua bagian yaitu: Tujuan umum pembelajaran, dan tujuan khusus pembelajaran . kedua rumusan tujuan tersebut pembelajaran harus menetapkan dalam rancangan pembelajaran Sebelum pembembelajaran dilaksanakan. Rumusan tujuan pembelajaran merupakan pernyataan mengenai kemampuan atau tingkah laku yang diharapkan dikuasi pembelajar setelah ia menerima materi pempebelajaran.tujuan pembelajaran adalah harapan yang harus dicapai pembelajar setelah mengikuti pembelajaran atau dapat dikatakan hasill belajar yang diharapkan dikuasai pembelajar setelah mereka diberikan pembelajaran oleh guru. Tujuan pembelajaran merupakan batas cita-cita yang di inginkan dalam kegiatan pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA Haling abdul. 2006. Belajar dan pembelajaran. Makassar : badan penerbit UNM. Sadirman,2004, kreatif dan movasi Belajar Mengajar, Bandung : Tata Raharja. Http//google. Roth referensi Well A.B.co, 1968. (On Line) Http// google.Belajar dan Pembelajaran. Poste july 4 2009, techolny 13on education. (On line ) Http//google. Konsep belajar dan Pembelajaran 17:5i opini (On line ) http//wikiwedia.konsep pembelajaran. (On line) BAB II HAKEKAT, CIRI, DAN KOMPONEN PEMBELAJARAN Sebagai guru sudah menyadari apa yang sebaiknya diliakukan untuk menciptakan kondisi belajar mengajar ayng dapat mengantarkan anak didik ke tujuan pengajaran. Sebagai kegiatan yang bernilai edukasi, maka belajar mengajar mempunyai hakikat,ciri, dan komponen-komponen. Ketiga aspek ini perlu betul guru ketahui guna menunjang tugas di medan pengabdian. Ketiga aspek tersebut adalah: a) HAKEKAT BELAJAR MENGAJAR Sebelum kita apaitu hakikat belajar menagjar perlu kita ketahui terlebih dahulu apa itu belajar dan mengajar, a. Konsep belajar Banyak devinisi tentang belajar menurut para ahli di antaranya: 1) Skinner dalam Barlow 19885, mengartikan Belajar sebagai suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku ang berlaku secara progresif. 2) Hilgart dan Bower dalam bukunya ( the theory of learning) mengemukakan bahwa Belajar behubungan dengan perubahan tingkah laku seorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalaman ynag berulang-ulang dalam situasi yyang sama dan perubahan tingkah laku tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan atau keadaan-keadaan dalam sesaat seseorang. 3) M. Sorbin Sutikno dalam bukunya pendidkan bermutu(2004) mengartikan, Belajar adalah suatu proses usaha yang di lakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan baru sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. . 4) C. T Morgan dalam introducion to phycology (1962) merumuskan Belajar adalh suatu perubahan relatif dalam menetapkan tingkah laku sebagai akibat atau hasil dari pengalaman yang lalu. 5) Thursan hakim dalm buku S (2002) mengartikan Belajar adalah suatu proses dalam kepridadian manusia , dan perubahan tersebut di tampakkan dlam bentuk peningkatan kualitas dan kuantintas tingkah laku, kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan , pemahaman dan keterampilan daya berpikir serta hal-hal lain kemmpuannya. (Hakikat proses belajar mengajar, 2010) online Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif mantap berkat latihan dan pengalaman. Belajar sesungguhnya adalah ciri khas manusia yang membedakan dengan binatang. Belajar yang dilakukan oleh manusia yang merupakan bagian dari hidupnya, berlangsung seumur hidup, kapan saja, dan dimana saj baik disekolah, dikelas dijalanan, dan waktu yang tak ditentukan sebelumnya.(skipsi belajar dan pembelajaran) on line Belajar adalah mengalami, dalam arti belajar terjadi dalam interaksi antara individu dengan lingkungan baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Lingkungan fisik contohnya buku, alat peraga , alam sekitar. Lingkungan pembelajaran adalah lingkunga yang merangsang dan yang menantang siswa belajar. (Udin s,dkk. 2002 ) (mumamad tohry2007) Berpandangan bahwa belajar aadalah suatu perilaku, pada saat orang belajar maka responnya kuat bila ia tidak belajar maka responnya menurun. Dlam belajar ditemukan hal berikut : 1) Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon belajar 2) Repons pembelajaran 3) Konsekwensi yang bersifat menguatkan respon tersebut. (Udin s,dkk. Online,2 januari 3002 ) Dari beberapa uraian di atas dapat di simpulkan bahwa belajar pada hakikatnya adalah perubahan yang terjadi pada diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktifitas belajar. (turya, 2001, makalah belajar menagajar) b. Konsep mengajar Mengajar merupakan suatu proses yang kompleks, tidak hanya menyanpaikan dari guru kepada siswa, namun banyak kegiatan maupun tindakan harus dilakukan terutama bils diinginkan hasil belajar lebih baik pada seluruh siswa. Oleh karena itu rumusan pengertian tidaklah sederhana, dalm arti membutuhkan rumusan yang dapat meeliputi keseluruhan kegiatan. (Hakikat proses belajar mengajar, 2010) online Bohar surhato (1997) mendefinisikan mengajar adalah suatu aktifitas pengorganisasian atau mengatur lingkungan sehingga tercita suasana ynag sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan peserta didik sehingga terjadi sebuah proses yang menyenangkan .Oemar Hamalik (1992) mengaja rsebagai proses menyampaikan pengetahuan dan kecakapan siswa. Dalm pengertian yang lain disebutkan juga bahwa mengajar adalah suatu aktifitas profesinal yang memerlukan keterampilan tingkat tinggi dan menyangkut pengambilan keputusan.(Davies, 1971). Hasibuan (2000) menyebutkan bahwa konsep mengajar ditahap perkembangannya masih dianggap sebagai suatu kegiatan penyampaian atau penyerahan pengetahuan. Mengajar menurut pengertian muktahir meruakan suaut perbuatan yang kompleks, perbuatan mengajar yang kompleks dapat diterjemahkan sebagai penggunaan secara intergatif sejumlah komponen yang terkandung dalam perbuatan mengajar itu untuk mrnyampaikan pesan pengajaran. Atau dengan gaya bahasa lain mengajar adalah menciptakan sistemlingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi yakni tujuan intruksional yang ingin dicapai, materi yang di ajarkan guru da siswa yang memainkan peranan serta ada dalm sosial tertentu, jenis kegiatan yang dilakukan serta sarna dan prasarana belajar mengajar yang tersedia. . (Hakikat proses belajar mengajar, 2010) online c. Hakikat belajar mengajar Dalam kegiatan belajar mengajar, adak didik adalah sebagai subjeck dan sebagai objeck dari kegiatan pengajaran oleh karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran tentu saja akan tercapai jika anak didik secara aktif berusaha mencapainya. Keaktifan anak didik di sana di tuntut tidak hanya dari segi fisik tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sam halnya anak didik tidak belajar karena anak didik tidak merasakan perubahan dalam dirinya. (turya, makalah belajar menagajar, Online) Padahal belajar pada hakikatnya adalah “perubahan” yang terjadi didalam diri seseorang setelah berakhir melakukan aktifitas belajar. Walaupun pada kenyataanya tidak semua perubahan termasuk kegiatan belajar, misanya perubahan fisik, mabuk, gila dan sebagainya. Akhirnya bila hakikat elajar adalah perubahan maka, hakikat belaja mengajar adalah proses perubahan yang dilakukan oleh seorang guru. (turya, makalah belajar menagajar, Online) b) CIRI-CIRI BELAJAR MENGAJAR Ciri-ciri belajar menurut Tirta Raharja dalam Abdul Haling,2004 yaitu: • Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar karena proses pematangan, • Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar bukan perubahan tingkah laku karena perubahan fisik • Hasil belajar relatif menetap Ciri-ciri belajar dilihat dari perubahan tingkah laku yaitu: a. Terjadi secara sadar b. Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional c. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif d. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara e. Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah f. Perubahan mencangkup seluruh aspek tingkah laku (Slameto, 2003) Sebagai suatu proses pengaturan, kegiatan belajar mengajar tidak terlepas dari ciri-ciri tertentu, yang menurut Edi suardi sebagai berikut: 1. Belajar mengajar memiliki tujuan,yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembangan tertentu. Inilah yang dimaksud dengan kegiatan belejar mengajar itu sadar akan tujuan, dengan menempatkan anak didik sebagai pusat perhatian. 2. Ada suatu proses (jalannya interaksi) yang direncanakan, didesain untuk mencapai secara optimal, maka dalam melakukan interaksi perlu ada prosedur, atau langkah-langkah sistematik dan relevan. 3. Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus. Dalam hal ini materi harus didesain sedemikian rupa, sehingga cocok untuk mencapai tujuan. 4. Ditandai dengan aktivitas anak didik. Sebagai konsekuensi bahwa anak didik merupakan syarat untuk bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar 5. Dalam kegiatan belajar mengajar guru berperan sebagai pembimbing . dalam perannya sebagai pembimbing, guru harus berusaha menghidupakan dan memberi motivasi, agar terjadinya proses interaksi yang kondisif. 6. Dalam kegiatan belajar amengajar membutuhkan disiplin. Disiplin dalam kegitn belajar mengajar ini di artikan sebagai pola tingkah laku yang di atur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah di taati oleh pihak guru maupun anak didik secara sadar. 7. Ada batas waktu. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam sistem berkelas(kelompok anak didik) batas waktu menjadi salah satu ciri yang tidak bisa di tingkatkan. Setiap tujuan akan diberi waktu tertentu, kapan tujuan itu sudah harus tercapai. 8. Evaluasi. Dari seluruh kegiatan diatas masalah evaluasi yang paling penting yang tidak bisa diabaikan setelah guru melakukan kegiatan belajar mengajar. Evaluasi harus guru lakukan untuk mengetahui tercapaai tidaknya tujuan pengajaran yang di lakukan. (Nana Sudjana: 1990) c) KOMPONEN-KOMPONEN BELAJAR MENGAJAR Sebagai suatu sistem tentu saja kegiatan belajar mengajar mempunyai sejumlah komponen yang meliputi: 1. Tujuan Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin di capai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan yang di programkan tampa tujuan, karena hal itu suatu yang tidak memiliki suatu kepastian dalam menentukan kearah man kegiatan itu akan di bawah. Akhirnya guru tidak bisa mengabaikan masalah perumusan tujuan bila ingin memprogramkan pengajaran.(AD. Rooijakkers, 1990) Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin di capai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tujuan dalam pendidikan dan pengajaran adalah suatu cita-cita yang bernilai normative. Dengan kata lain sejumlah nilai yang di tanamkan kepada anak didik. Tujuan mempunyai jenjang ynag luas dan umum sampai kepada yang sempit/ khusus. Semua tujuan itu berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya, dan tujuan yang dibawahnya menunjang tujuan di atasnya. Tujuan adalah komponen yang dapat mempengaruhi komponen pengajaran lain seperti bahan pelajaran, kegiatan belajar menangajar, pemilihan metode, alat, sumber, dan alat evaluasi. (tujuan belajar, 2009) on line Dick dan Reiser (1989) mengemukakan bahwa Tujuan Pengajaran adalah pernyataan umum dari apa yang akan dapat dilakukan pelajar sebagai hasil pengajaran yang dilakukan. (SAFINATUNNAJAH, 2010) Adapun model pengajaran secara umum menurut Glasser (1968) sebagai berikut : - Instrucsional Objectives - Entering Behaviour - Intrucsional Producs - Performance Assesment Setiap lembaga pendidikan nasional bermuara kepada pencapaian tujuan dan fungsi pendidikan yang dinyatakan dalam pasal 3 UU Nomor 20 Tahun 2003: ”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mecerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi serta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Tujuan dalam pengajaran adalah deskripsi tentang penampilan atau prilaku (performance) murid-murid yang diharapkan setelah mereka mempelajari bahan pelajaran yang disajikan oleh guru. (SAFINATUNNAJAH, 2010) Menurut pendapat Bloom (1956) bahwa tujuan pengajaran harus mengaju kepada tiga dominan (kawasan pembinaan) untuk pengembangan pribadi anak, yaitu : • Kognitif, • Afektif, dan • Psikomotorik. Urlich menjelaskan (1981:42) bahwa elemen dari tujuan pengajaran, adalah sebagai berikut : 1. Pernyataan tentang perilaku yang dapat diamati, atau penampilan dari pelajar. 2. Suatu perpaduan kondisi perilaku yang diinginkan terjadi. 3. Pengungkapan penampilan minimal yang dapat diterima dari para pelajar. (SAFINATUNNAJAH 2010) Menurut Hamalik (1989:5), proses pendidikan sebagai proses untuk mengubah tingkah laku dan sikap sesuai dengan tujuan kognitif, afektif dan psikomotor merupakan komponen yang paling dalam sistem pendidikan. Dalam garis besarnya proses itu terdiri dari tiga aspek penting yaitu : • Tujuan pendidikan yang telah digariskan secara eksplisit dan implisit. • Pengalaman-pengalaman belajar didesain untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. • Evaluasi yang dilakukan untuk menentukan seberapa jauh tujuan telah dicapai. (SAFINATUNNAJAH, 2010) Menurut Kemp (1994) meskipun domain pembelajaran dibagi kepada tiga bagian, para guru perlu menyadari bahwa ketiganya memiliki hubungan yang erat dalam konteks tujuan yang akan dicapai. 2. Bahan pelajaran Bahan pelajaran adalah subtansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tampa bahan pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Karena itu guru yang mengajar pasti memiliki dan menguasai bahan pelajaran yang akan di sampaikan kepada anak didik. Ada dua persoalan dalam penguasaan bahan pelajaran ini yakni menguasai bahan pelajaran pokok dan bahan pelajaran pelengkap (Indramayu, 2010) Bahan pelajaran pokok adalah bahan pelajaran yang menyangkut bidang study yang dipegang oleh guru sesuai dengan profesinya (disiplin keilmuannya).Bahan pelajaran pelengkap atau penunjang adalah bahan pelajaran yang dapat menambah wawasan seorang guru agar dalam mengajar dapat menunjang penyampaian pelajaran pokok. Bahan penunjang ini biasanya bahan yang terlepas dari disiplin keilmuan guru, tetapi dapat digunakan sebagai penunjang dalam penyampaian bahan pelajaran pokok. Pemakaian bahan pelajaran penunjag ini harus di sesuaikan dengan bahan pelajarana pokok yang dipegang agar dapat memberikan motivasi kepada sebagian besar atau semua anak didik. (Indramayu, 2010) 3. Kegiatan belajar mengajar Kegiatan belajar mengajar adalah inti dari pendidikan segala sesuatu yang akan diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar akan melibatkan semua komponen pengajaran , kegiatan belajar mengajar akan menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat di capai. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru dan anak didik terlibat dalam sebuah interaksi dan bahan pelajaran sebagai mediumnya. Dalam interaksi inilah anak didk lebih aktif, bukan guru. Guru hanya berperan sebagai motivator dan vasilitator. Dalam kegiatan belajar mengajar akan melibatkan semua komponen pengajran . kegiatan belajar mengajar akan menentukan sejauh mana tujuan yang telah di tetapkan dapat dicapai. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru dan anak didik terlibat dalam sebuah interaksi dan bahan pelajaran sebagai mediumnya. Dalam interaksi inilah anak didk lebih aktif, bukan guru. Guru hanya berperan sebagai motivator dan vasilitator. Dalam kegiatan belajar belaja mengajar guru sebaiknya memperhatikan perbedaan individual peserta didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual dan psikologi. Agar mudah melakukan dalam melakukan pendekatan kepada setiap anak didk secara individual. ((Indramayu, 2010) 4. Metode Metode adalah suatu cara yang di pergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalm kegiatan belajar mengajar, mereka diperlukan oleh guru dan penggunaanya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin di capai setelah pengajaran berakhir. Seorang guru tidak dapat melasanakan tugasnya bila ia tidak menguasai satupun metode mengajar yang dirumuskan dan di kemukakan oleh para ahli dan pendidikan. (Syaifu Bahri Dhamarah 1991) Metode adalah suatu cara yang digunakan untuk mencapai tujaun yang telah di tetapkan dalam kegiatan belajar mengjar metode yang digunakan guru bervariasi sasuai dengan tujuan ynag hendak di capai setelah pengajaran berakhir. Prof Dr. Winarno S, M. Sc, mengemukakan lima macam faktor yang mempengaruhi penggunaan metode belajar sebagai berikut: a. Tujuan yang berbagai macam jenisnya dan fungsinya b. Anak didik yang berbagai macam tingkat kematangannya c. Situasi yang bermacam-macam keadaannya d. Fasilitas yang bermacam-macam kualitas dan kuantitas e. Pribadi guru dan kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda. 5. Alat Alat adalah segala sesuatu yang dapat di gunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan dalam mencapai tujuan pengajaran alat mempunyai fungsi yaitu: Sebagai perlengkapan , Alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan dan Alat sebagai tujuan. (Dr. Ahmad D. Marimba , 1989) 6. Sumber pelajaran Yang dimaksud dengan sumber-sumber bahan pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang. (Drs. Udin Saripudin W, M.A. dan Drs Rustana. A: 1991) Dengan demikian sumber pelajaran ini merupakan baahan atau materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal baru bagi si pelajar. Sebab belakar adalha untuk mendapatkan hal-hal baru (perubahan). (Indramayu,2010) Sumber pelajaran merupakan bahan atau materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal baru bagi si pelajar Ny. Dr. Roestiyah, Nk (1989:53) mengatakan bahwa sunber belajar adalah a) Manusia b) Buku/ perpustakaan c) Media massa d) Lingkungan e) Alat pengajaran (Indramayu, 2010) 7. Evaluasi Istilah evaluasi berasal dari bahasa inggris yaitu evaliation. Dalam buku essenstials of educational evaluation karangan Edwin Wand dan Geranld W. Brown. Dikatakan bahwa evaluation refert to the act or prosses to determining the value of something jadi menurut Wind dam Brown evaluasi adalah suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai atau sesuatu. Sesuai dengan pendapat di atas maka menurut Wayan Nurkancana dan P.P.N Sumartana (1983:1) evaluasi pendidkan dapat di artikan sebagai tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai sebagai sesustu dalam dunia pendidkan atau segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan. (Indramayu, 2010) Berbeda dengan pendapat tersebut Ny. Drs. Roestiyah (1989:85) mengatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya , sedalam –dalamnya yang bersangkutan dengan kapasitas siswa guna mengetahi sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar. (Indramayu, 2010) Pendapat Hamalik (1990:259) evaluasi adalah proses berkelanjutan tentang mengumpulkan dan menafsirkan informasi untuk menilai (assess) keputusan keputusan yang di buat dalam merancang suatu sistem pengajaran. (Indramayu, 2010) Oleh karena itu Hamalik memberikan tiga implikasi, yaitu : 1. Evaluasi adalah proses yang terus-menerus bukan hanya pada akhir pengajaranakan tetapi dimulai sebelum dilaksanakannya pengjaran sampai dengan berakhirnya pengajaran 2. Proses evaluasi senantiasa di arahkan kepada tujuan tertentu yaitu untuk mrndapatkan jawaban-jawaban tentang bagaimana memperbaiki pengajaran Evaluasi menuntut penggunaan alat-alat ukur yang akurat dan bermakna untuk mengumpulkan informasi yang di butuhkan guna membuat keputusan (Indramayu, 2010) 3. Secara erminologi evaluasi pendidikan adalah proses kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan, dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan dan usaha untuk mencari umpan balik bagi penyempurnaan pendidikan. (Indramayu, 2010) Evaluasi merupakan subsistem yang sangat penting dan sangat di butuhkan dalam setiap sistem pendidikan, karena evaluasi dapat mencerminkan seberapa jauh perkembangan atau kemajuan hasil pendidikan. Dengan evaluasi, maka maju dan mundurnya kualitas pendidikan dapat diketahui, dan dengan evaluasi pula, kita dapat mengetahui titik kelemahan serta mudah mencari jalan keluar untuk berubah menjadi lebih baik ke depan. (dwi ayu, dkk Evaluasi pembelajaran,. 2009) online Tanpa evaluasi, kita tidak bisa mengetahui seberapa jauh keberhasilan siswa, dan tanpa evaluasi pula kita tidak akan ada perubahan menjadi lebih baik, maka dari itu secara umum evaluasi adalah suatu proses sistemik umtuk mengetahui tingkat keberhasilan suatu program (dwi ayu, dkk Evaluasi pembelajaran,. 2009) online Evaluasi pendidikan dan pengajaran adalah proses kegiatan untuk mendapatkan informasi data mengenai hasil belajar mengajar yang dialami siswa dan mengolah atau menafsirkannya menjadi nilai berupa data kualitati atau kuantitati sesuai dengan standar tertentu. Hasilnya diperlukan untuk membuat berbagai putusan dalam bidang pendidikan dan pengajaran. (dwi ayu, dkk Evaluasi pembelajaran,. 2009) online Fungsi Evaluasi Pendidikan. Sangat diperlukan dalam pendidikan antara lain memberi informasi yang dipakai sebagai dasar untuk : 1. Membuat kebijaksanaan dan keputusan. 2. Menilai hasil yang dicapai para pelajar. 3. Menilai kurikulum. 4. Memberi kepercayaan kepada sekolah. 5. Memonitor dana yang telah diberikan. 6. Memperbaiki materi dan program pendidikan. (dwi ayu, dkk Evaluasi pembelajaran,. 2009) online Hasil evaluasi yang didapat sampai sekarang tentang dunia pendidikan Nasional kita cukup memperihatinkan, tidak hanya dalam segi kualitas tapi juga kegagalan dalam membentuk karakter building generasi muda bangsa. Pendidikan menjadi tanggung jawab semua pihak, dimana tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia. membentuk SDM yang berkualitas. Namun sayang kebijakan pendidikan yang ada sampai sekarang masih jauh dari harapan, karena kebijakan pendidikan seperti kata pakar pendidikan dari Universitas Nasional Jakarta yaitu HAR Tilaar kebijakan pendidikan di Indonesia sesuai dengan pameo ganti menteri ganti kebijakan. Mengingat terlalu luasnya cakupan dalam evaluasi pendidikan maka penulis akan membatasi hanya pada evaluasi hasil belajar siswa dikarenakan masalah ini sangat sesuai dengan tugas penulis sebagai guru. Evaluasi pembelajaran memilki berbagai tujuan diantaranya adalah untuk : 1. Menentukan angka kemajuan atau hasil belajar pada siswa. Berfungsi sebagai : a. Laporan kepada orang tua / wali siswa. b. Penentuan kenaikan kelas c. Penentuan kelulusan siswa.(Fungsi dan tujuan evaluasi pembelajaran, 2009) Online 2. Penempatan siswa ke dalam situasi belajar mengajar yang tepat dan serasi dengan tingkat kemampuan, minat dan berbagai karakteristik yang dimiliki. 3. Mengenal latar belakang siswa (psikologis, fisik dan lingkungan) yang berguna baik bagi penempatan maupun penentuan sebab-sebab kesulitan belajar para siswa, yakni berfungsi sebagai masukan bagi tugas Bimbingan dan Penyuluhan (BP). 4. Sebagai umpan balik bagi guru, yang pada gilirannya dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan program remdial bagi siswa. . .(Fungsi dan tujuan evaluasi pembelajaran, 2009) Online Evaluasi mempunyai fungsi : Kurikuler (alat pengukur ketercapaian tujuan mata pelajaran), instruksional (alat ukur ketercapaian tujuan proses belajar mengajar), diagnostik (mengetahui kelemahan siswa, penyembuhan atau penyelesaian berbagai kesulitan belajar siswa)., placement (penempatan siswa sesuai dengan bakat dan minatnya, serta kemampuannya) dan administratif BP (pendataan berbagai permasalahan yang dihadapi siswa dan alternatif bimbingan dan penyuluhanya). ( Evaluasi Pembelajaran Dalam konteks manajemen pembelajaran, kontrol (pengawasan) adalah suatu pekerjaan yang dilakukan seorang guru untuk menentukan apakah fungsi organisasi serta pimpinananya telah dilaksanakan dengan baik mencapai tujuan-tjuan yang ditentukan. Johnson, dkk (1978) mengutip pendapat Henri Fayol (1949), Mokler (1970), dan Wiener (1950), yang memberikan dasar teori kontrol lebih awal mengenai konsep ilmu tentang kontrol diatas sistem yang kompleks, informasi dan komunikasi. Jonhson (1978:74) menyimpulkan kontrol sebagai fungsi dari sistem yang memberikan penyesuaian dalam mengarahkan kepada rencana, pemeliharaan dari variasi-variasi dari sasaran sistem didalam batasan-batasan yang diperbolehkan. Ditegaskan oleh Kemp (1993:157) bahwa, tidak ada perbaikan dalam proses pembelajaran tanpa lebih dahulu melakukan evaluasi yang baik terhadap proses pembelajaran itu sendiri. Hamalik (1990), karena tugas seorang perancang sistem dalam konteks pembelajaran adalah mengorganisir orang-orang, material dan prosedur-prosedur agar siswa belajar secara efisien. Menurut Dimyati dan Mudjono (1999:190) evaluasi mencakup evaluasi belajar dan evaluasi pembelajaran. Reigeluth (1993:9) bahwa evaluasi pengajaran adalah berkaitan dengan pemahaman, peningkatan dan pelaksanaan metode sebagai penilaian terhadap efektifitas dan efisiensi dari semua aktifitas. Pendapat Hamalik (1990:259) evaluasi adalah suatu proses berkelanjutan tentang pengumpulan dan penafsiran informasi untuk menilai (assess) keputusan-keputusan yang dibuat dalam merancang suatu sistem pengajaran. ( SAFINATUNNAJAH, , 2010) Oleh karena itu, Hamalik memberikan tiga implikasi, yaitu : 1. Evaluasi adalah proses yang terus-menerus bukan hanya pada akhir pengajaran, akan tetapi dimulai sebelum dilaksanakannya pengajaran sampai dengan berakhirnya pengajaran. 2. Proses evaluasi senantiasa diarahkan kepada tujuan tertentu, yaitu untuk mendapatkan jawaban-jawaban tentang bagaimana memperbaiki pengajaran. 3. Evaluasi menuntut pengguanaan alat-alat ukur yang akurat dan bermakna untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan guna membuat keputusan. (SAFINATUNNAJAH, 2010)
DAFTAR PUSTAKA Ibrahim, dkk. 2000. Macam-macam model pembelajaran. Jakarta. Depertemen kebudayaan Http//blog.unes.ac.id/dety2046/2011/04/29jeni-jenis-model-pembelajaran/html http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2251772-pengertian-model-pembelajaran/#ixzz1kzlcQi6i http//blogspot/Heru Setyawan/07:32/pngertian/model-pembelajaran/html http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/09/12/pendekatan-strategi-metode-teknik-dan-model-pembelajaran/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar